KAIN TENUN JEPARA

Kain Tenun Jepara | 0858-5912-2388

Kain tenun Jepara memiliki keunikan pada adaptasi motifnya dari dari daerah lain. Salahsatu yang menjadi penyebab adalah luasnya relasi dagang pengrajin Jepara dengan pedagang tenun dari daerah lain.

Tidak Mengklaim Motif Sumba NTT

Medio Juni 2019, media sosial Facebook dan Twitter warga Nusa Tenggara Timur (NTT) sempat ramai membahas motif tenun Sumba yang diklaim sebagai motif tenun Troso, Jepara.

Sempat juga muncul petisi online yang menyatakan jika tenun Jepara telah mengklaim motif Tenun Sumba. Petisi yang diprakarsai Herman Umbu Billy di situs change.org bahkan sudah ditandatangani sekitar 10 ribu nitizen. Pembuat petisi mengklaim, motif Tenun Troso Jepara yang dipamerkan di ajang internasional itu merupakan motif milik Sumba.

Baca TajukFlores : Benarkah Motif Kain Tenun Troso Jepara dari Sumba?

Kain Tenun Jepara Motif Toraja

Sebelumnya akhir 2017, pengrajin tenun Toraja Utara, Sulawesi Selatan sempat merasakan dampak dari menjamurkan tenun asal Jepara yang di jual di daerah tersebut.

Armina, salahsatu pengrajin tenun di Toraja Utara mengatakan, tenun Jepara dengan motif Toraja dijual di daerahnya dengan harga yang jauh lebih murah. Satu hal yang dirasakan Armina akan membuat pembeli tertarik. Khususnya, yang tidak terlalu mementingkan daerah asal motifnya.

“Harga kain tenun Jepara motif Toraja jauh lebih murah, bahkan ada yang hanya puluhan ribu rupiah. Sementara kain yang asli dibuat di Toraja itu harganya mencapai ratusan ribu per lembar,” katanya.

“Semua motif asli Toraja sudah ditiru dari pengusaha di Jepara. Kita juga berharap agar masyarakat bisa lebih cermat karena kualitas yang asli tentu jauh lebih baik,” ujarnya.

Baca Antara : Penenun Toraja Rasakan Dampak Kain Toraja Asal Jepara

Motif Terbaru Sesuai Permintaan Pelanggan

Pengrajin tenun Jepara sendiri membantah telah mengklaim motif tenun ikat daerah lain seperti Sumba, Toraja atau Bali. “Selama ini, belum pernah ada klaim terhadap motif tenun ikat Sumba sebagai motif tenun Troso, Kabupaten Jepara,” kata Nasta’in, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Troso yang menjadi Sentra Tenun Jepara.

Kalaupun ada motif daerah lain seperti Bali, Toraja dan Sumba yang dibuat oleh penenun Troso, Jepara, kata dia, lebih karena penjualan tenun Troso sudah masuk ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk di wilayah Bali, Toraja, dan Sumba.

Bahkan, kata dia, pedagang tenun di Bali juga memasarkan tenun hasil produksi Jepara yang motifnya disesuaikan dengan keinginan pembeli setempat, yakni motif Bali.

“Secara bisnis, pedagang di Bali tentunya akan meminta disediakan motif tentun sesuai khas Bali selain pula disediakan motif khas Jepara,” ujarnya.

Ia memastikan penenun Troso, Jepara tidak akan mengklaim motif tenun ikat khas Sumba karena motif yang dibuat selalu berkembang dengan menyesuaikan tren.

Baca Juga: Penenun Troso Jepara bantah telah klaim motif tenun Sumba

Guna promosi tenun Jepara, Sebanyak 1.500 penenun unjuk keterampilan merajut benang menjadi kain tenun dalam gelaran Troso Festival 2019. Ajang yang digelar pada 13 Juli 2019 tersebut tercatat dalam rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

Baju Seragam Kerja dari Kain Tenun Jepara

Desainer Ikat Indonesia, Didiet Maulana, membuat baju seragam kerja untuk PT Bank Central Asia Tbk dengan bahan kain tenun Jepara. Launching seragam kerja tenun itu dilakukan pada Juli 2018.

Menurut Direktur BCA Lianawati Suwono, proses kreatif baju seragam kerja BCA diawali dengan berdiskusi dengan perajin hingga jadi memakan waktu dua tahun. Lebih dari 500 perajin di Desa Troso dilibatkan untuk menyediakan kebutuhan 45.000 meter kain tenun. “Seragam kerja tenun ini akan digunakan karyawan kantor cabang BCA di seluruh Indonesia,” sebut Lianawati.

Menurut Didiet Maulana, merancang baju tenun untuk seragam memerlukan proses yang cukup panjang. Riset yang mendalam amat diperlukan. “Kita harus paham betul soal pakem dan aturan yang menaunginya karena bersinggungan dengan budaya,” ujar Didiet.

Baca: Seragam Elegan BCA dari Tenun Jepara

Didiet memilih motif cengkeh dan motif mirroring yang dihadirkan dengan warna biru. Sedangkan, dalam proses pewarnaan, dia menggunakan teknik pencelupan natural.

“Untuk mendapatkan warna biru, diperlukan proses pencelupan tangan yang natural, dilengkapi formula khusus. Alhasil, warna biru yang dihasilkan semua seragam sama, tidak berbeda satu sama lain,” ujar Didiet.

“Proses merancang seragam kantor ini cukup panjang. Banyak sekali unsur yang harus dipertemukan. Di sini saya berupaya mengawinkan kultur perusahaan dengan filosofi kain tenun yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Didiet.